Unair dan 9 FH Indonesia Tingkatkan Kerja Sama dengan Utrecht University

News, Humas, 11-04-2012

(FH – Warta Unair)

Fakultas Hukum Universitas Airlangga telah diakui sebagai salah satu fakultas hukum terbaik di Indonesia. Penghargaan tersebut mengundang berbagai tawaran kerja sama dengan berbagai pihak, baik dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu kerja sama dengan pihak luar negeri adalah Memorandum of Understanding antara Utrecht University, Belanda, dengan 10 Fakultas Hukum di Indonesia.

Sebagai bentuk penguatan kerja sama, Utrecht University mengadakan pertemuan dengan sepuluh fakultas hukum yang menandatangani MoU tersebut. Sepuluh FH tersebut adalah FH Universitas Airlangga, FH Universitas Indonesia, FH Universitas Gadjah Mada, FH Universitas Padjadjaran, FH Universitas Hassanudin, FH Universitas Sebelas Maret, FH Universitas Brawijaya, FH Universitas Mataram, FH Universitas Andalas, dan FH Universitas Diponegoro.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Ruang 301 lantai 3 Fakultas Hukum Unair (1/4) itu dibahas mengenai perkembangan kerja sama yang telah dimulai sejak tahun 2008 tersebut. Wakil Dekan III FH Unair Nurul Barizah, SH., LL.M., Ph.D., mengatakan, program utama dari kerja sama ini adalah Recharging Program, yang bertujuan agar dosen melanjutkan belajar lagi, mau membuka buku kembali, dan melakukan penelitian di luar negeri.

Hingga saat ini, Recharging Program secara rutin terus mengirimkan dosen-dosen untuk menuntut ilmu di Utrecht University melalui sandwich program. Dari FH Unair sendiri, tahun lalu mengirimkan tujuh orang dosen untuk melanjutkan studi ke Utrecht.

Nurul mengatakan, kerja sama dengan Utrecht University ini telah menunjukkan manfaat dan menarik minat beberapa universitas. Awalnya, kerja sama ini digagas oleh Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Mataram, dan Universitas Andalas pada tahun 2008. Kemudian FH dari universitas lain bergabung belakangan hingga kemudian ada 10 FH yang menjalin kerja sama serupa dengan Utrecht.

“Dalam pertemuan ini, kami (Utrecht dan 10 FH) setuju untuk mengembangkan program ini agar tidak sekedar menjadi program exchange saja. Pihak Utrecth berharap akan ada produk-produk berupa penelitian yang bisa dihasilkan dari kerja sama ini,” terang Nurul.

Selain mengadakan pertemuan dengan Utrecht University, Unair juga mengadakan konferensi internasional bertajuk “The International Conference on Harmonizing Legal Principles Toward ASEAN Community” pada keesokan harinya (2-4/4). Konferensi merupakan salah satu bentuk perwujudan MoU antara FH Unair dengan Utrecht University. Dalam konferensi tersebut, dibahas mengenai permasalahan legal yang dihadapi oleh ASEAN, antara lain HAM, demokrasi, korupsi, hukum perdagangan internasional, hukum perlindungan terhadap warga negara Indonesia di negara lain, dan hukum perlindungan sumber daya Indonesia.

Panitia mencatat 55 paper yang dipresentasikan oleh berbagai peneliti dari Unair, Indonesia, dan ASEAN. Dari Unair sendiri tercatat ada 25 paper, 18 di antaranya berasal dari Fakultas Hukum, dan 7 lainnya berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Berbagai paper yang dipresentasikan oleh Unair terutama berfokus di bidang hukum perlindungan terhadap WNI di negara lain dan hukum perlindungan sumber daya Indonesia.