Empat Sarjana UNAIR Siap Jadi Guru Bantu

News, humas_ua, 21-09-2010

Menjadi guru bantu di daerah terpencil, mungkin tidak pernah jadi cita-cita banyak orang. Namun berbeda dengan empat orang sarjana Unair berikut, Aisy Ilfiyah, Asril Novian Alifi, Granasti Aprilia, dan Rhamdani Kurniawan. Raut wajah mereka menampakkan rona bahagia saat mengetahui nama keempatnya diumumkan masuk dalam jajaran sekitar 50 Pengajar Muda Daerah 2010, dari total 1383 pendaftar Gerakan Indonesia Mengajar yang digagas oleh Anies Baswedan. Dari lingkup Surabaya, mereka adalah empat dari lima perwakilan yang terpilih, dimana satu lainnya berasal dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

Sebelum menghadapi medan sebenarnya, keempat sarjana ini akan dibekali dengan pelatihan selama tujuh minggu, mulai (19/9) hingga (9/11) mendatang di Ciawi, Bogor. Segala bentuk persiapan, fisik, mental, maupun pemahaman materi akan diberikan, berikut pemetaan profil pengajar muda untuk disesuaikan dengan profil daerah tujuan mengajar. Tahun ini, lima kabupaten dipilih sebagai daerah tujuan mengajar. Daerah pelosok minim tenaga pengajar itu terletak di Kabupaten Bengkalis-Riau, Tulang Bawang Barat-Lampung, Majene-Sulawesi Barat, Halmahera Selatan-Maluku Utara, dan Paser-Kalimantan Timur.

Diperkirakan, bertepatan dengan Hari Pahlawan mendatang (10/11/2010), para Pengajar Muda ini akan memulai tugas baktinya hingga setahun ke depan. Mereka mengemban tanggung jawab menjadi guru bantu untuk hampir semua bidang mata pelajaran murid Sekolah Dasar.

Di lima puluh sekolah dasar yang tersebar, mereka juga memiliki amanah yang lebih besar untuk dapat melakukan pengembangan pendidikan di daerah tempat mengajar, baik melalui pengembangan kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, maupun kegiatan-kegiatan inspiratif lain yang dapat memacu mimpi dan cita-cita anak-anak di pelosok.

Bagi keempatnya, ini merupakan kesempatan berharga untuk dapat mendulang pengetahuan dan sekaligus memotivasi anak-anak untuk belajar. Pendidikan adalah hak anak-anak di seluruh penjuru negeri, termasuk bagi anak-anak di pelosok sekalipun.

“Bagiku, seterpencil apa pun daerah mereka, mereka tetap memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan,” ujar Aisy Ilfiah, Pengajar Muda lulusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan, FISIP, Unair. “Suatu saat aku juga ingin melihat mereka bisa belajar di Unair,” sambung Rhamdani Kurniawan.