Menyusuri Jejak Prigi di Bantaran Kali

Profil, humas_ua, 05-08-2011

Sebuah kenangan, memberinya inspirasi cukup besar untuk menyuarakan perubahan. Lelaki itu tak gentar, meski angin birokrasi dan masyarakat yang egois, terus memaksa langkahnya mundur. Prigi Arisandi, hanyalah satu diantara jutaan anak Jawa Timur yang pernah menyelami sumber-sumber air di tanah kelahirannya sendiri, tanpa rasa jijik dan takut akan penyakit.

Maka tidak salah, jika laki-laki kelahiran Gresik 1976 silam itu kemudian membela mati-matian kali (sungai) yang penuh memori baginya. Prigi, bersama Ecological Observation and Wetlands Conservation-Ecoton (Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah) yang didirikannya, telah berupaya besar menyelamatkan Kali Surabaya dari kerusakan akibat pencemaran. Atas upayanya, mahasiswa S-2 Biologi Universitas Airlangga ini mendapatkan Goldman Environmental Prize 2011, sebuah penghargaan internasional bagi para pahlawan lingkungan akar rumput.


Dari hasil penelitian Ecoton, saat ini dilihat dari kadar DO (Dissolved Oxygen/Kandungan Oksigen terlarut dalam air), sedikit demi sedikit kualitas air Kali Surabaya mulai merangkak naik. Angka DO semakin meningkat mendekati 6 mg/L (standar DO untuk air Kelas 1). Padahal selama ini DO kali Surabaya tidak pernah ada di posisi 3 mg/L.

Hal lain yang menggembirakan itu adalah tidak adanya peristiwa ikan mati. Dari tahun 2009-2011, biasanya pada musim kemarau saat debit air sungai turun kondisi DO akan ikut turun. Akibatnya banyak ikan yang mengalami kekurangan oksigen dan mati mengapung. Prigi juga mengatakan beberapa jenis ikan yang selama 10 tahun terakhir sudah jarang terlihat sudah mulai banyak ditemui kembali, seperti jenis jendil dan kething.

Prigi menyebutkan, saat ini Kali Surabaya sedang kelebihan muatan karena sebenarnya daya tampung beban pencemaran Kali Surabaya setiap harinya adalah 35 ton limbah cair. Namun faktanya, saat ini setiap hari Kali Surabaya dibuangi 75 ton limbah cair. Maka apabila tidak ada upaya serius dari pemerintah, Kali Surabaya akan menjadi kali mati, tidak ada kehidupan dan mustahil digunakan sebagai air layak bahan baku PDAM Kota Surabaya.

“Momok kali Surabaya adalah dari limbah industri kertas. Ada lima pabrik kertas yang memberikan sumbangan 98% dari total buangan industry, yaitu PT Gunung Geliat, PT Adiprima Suraprinta, PT Surabaya Agung Kertas Tbk, PT Surabaya Mekabox dan PT Suparma,” ungkap Prigi.

Untuk itu, Pemerintah Kota Surabaya perlu merelokasi industri atau melakukan moratorium penambahan jumlah industri di Kali Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya juga harus merelokasi pemukim liar yang ada di bantaran Kali Surabaya

Hal yang menyulitkan upaya penyelematan Kali Surabaya adalah pemerintah yang masih belum cerdas. Prigi mengatakan, setiap masalah yang timbul di negeri ini karena lemahnya institusi pemerintah yang seringkali tidak responsif dan lambat.

“Kelemahan terbesar dalam penyelesaian masalah lingkungan adalah LEMAHNYA INSTITUSI KITA, karena belum memprioritaskan masalah lingkungan, terlalu eksploitatif, rakus, tidak visioner, dan tidak memberi masyarakat ruang untuk terlibat dalam pengelolaan lingkungan,” ujar Prigi panjang lebar.

Selain meneliti Kali Surabaya, Prigi juga melakukan penelitian di Kali brantas dan sumber-sumber mata air yang mensuplai Brantas. Saat ini, kata Prigi, terjadi kerusakan yang masif di Hulu Brantas

"Orang Biasa" dan Kali Surabaya

Dua belas tahun sudah Prigi begitu concern pada masalah kali. Prigi merasa apa yang dilakukannya merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan. Prigi mengatakan dia hanya orang biasa yang mencoba membuat perubahan kondisi di sungai yang rusak dan tercemar. Dia tidak ingin anak-anaknya kelak mendapatkan keadaan sungai yang lebih buruk kualitasnya dari sekarang.

Prigi melakukan upaya-upaya pemulihan sungai ini sejak 1998, dimulai dengan perlawanan-perlawanan pada indutri-industri di wilayah Bambe yang menimbulkan kerusakan sungai dan lingkungan. Banyak yang dilakukannya, seperti demonstrasi, blokade, dan penolakan-penolakan pada aktivitas industri yang seenaknya membuang limbah di Kali Surabaya.

Kemudian pada 2001, bersama kelompok Posko Ijo, Prigi mulai mengorganisir diri menjadi sebuah kelompok masyarakat yang memantau sumber pencemaran di Kali Tengah dan Kali Surabaya. Upaya itu dilakukan karena ingin menunjukkan bahwa rakyat juga bisa melakukan advokasi melalui pengumpulan data dan tidak hanya sekedar demonstrasi.

Tahun 2002, bersama Ecoton, Prigi memulai upaya pendidikan lingkungan pada anak-anak sekolah di sekitar wilayah pabrik dan DAS Kali Surabaya. Progo meyakini bahwa anak-anak ini adalah korban pencemaran dan mereka adalah pemilik sah lingkungan yang sekarang sedang dieksploitasi. Maka, mereka harus dilibatkan dalam pengelolaan dan perencanaan pemanfaatan sumber daya alam. Prigi juga percaya bahwa anak-anak ini punya power untuk melakukan perubahan. Karenanya, sebagai orang dewasa Prigi merasa berkewajiban membantu mereka untuk terlibat dalam membuat perubahan.

Sejak tahun 1999 hingga sekarang, Prigi dan Ecoton selalu melakukan kegiatan-kegiatan pemantauan Kali Surabaya, merekam kejadian-kejadian di Kali Surabaya dan melakukan kegiatan penelitian potensi keanekaragaman hayati di Kali Surabaya. Menurutnya, orang tidak mencintai Kali Surabaya karena tidak mengenal lebih dalam potensi yang dimiliki. Maka sejak 1999 Prigi memutuskan untuk menggali potensi kekayaan hayati Kali Surabaya. Beberapa kekayaan hayati yang dia temukan antara lain jenis tumbuhan berkhasiat obat, jenis-jenis serangga air, jenis makroinvertebrata, jenis tanaman berbunga, jenis tanaman budidaya, jenis burung dan jenis ikan.

“Saya ingin menunjukkan bahwa Kali Surabaya ini tidak hanya untuk kepentingan manusia untuk bahan baku air minum, tetapi ada banyak kehidupan yang juga membutuhkan air Kali Surabaya,” kata Prigi.

Salah satu upaya Pigi dan Ecoton untuk mengubah kebijakan Pemerintah Kota Surabaya agar pro-Kali Surabaya, selama 10 tahun lebih Prigi mengumpulkan fakta hukum, data, informasi, dan kajian ilmiah tentang kerusakan Kali Surabaya. Maka pada tahun 2007 melalui lembaga Ecoton, Prigi menggugat Gubernur Jatim yang saat itu Imam Utomo karena terbukti lalai tidak menjaga Kali Surabaya.

Satu hal yang terus menjadi pemacu semangat Prigi dalam mengatasi masalah Kali Surabaya adalah keyakinannya bahwa setiap masalah dibutuhkan kreatifitas manusia untuk menemukan solusi.

“Tuhan tidak akan memberikan masalah yang berat yang tidak dapat dipikul oleh manusia. Sudah ada takarannya, ada masalah pasti ada solusi,” ujar Prigi.

Tidak Takut Ditangkap

“SAYA NDAK PERNAH TAKUT BICARA SESUATU YANG BENAR,” tegas Prigi. “Kita harus lebih takut pada rasa takut itu sendiri karena rasa takut akan menghilangkan akal sehat dan kecerdasan kita,” tambahnya, mengutip kata-kata aktivis HAM Munir.

Awalnya apa yang dilakukan Prigi dan teman-temannya sempat dianggap oleh pihak keamanan sebagai tindakan subversive. Tuduhan itu dia terima pada Maret 1998  di Polsek Driyorejo saat diinterogasi atas tuduhan menggerakkan massa atas pengrusakan dan aksi di salah satu pabrik di Bambe. Selain itu, Pemprop/Pemkab Gresik selalu menanggapi kegiatan yang dilakukan oleh Posko Ijo maupun Ecoton sebagai kegiatan yang menghambat investasi dan membuat iklim investasi tidak kondusif di Jatim. Padahal, sebenarnya yang diminta Prigi dan Ecoton adalah perbaikan pengolahan limbah, bukan menutup pabrik.

Tahun 2004 Prigi pernah diamankan oleh Polres Gresik saat melakukan aksi diam dan menutup pabrik di Wilayah bambe. Satu hal yang paling dia ingat adalah bagaimana kampung dengan 75 KK dikepung polisi dengan panser dan pasukan yang membawa senjata lengkap pada Maret 1998, setelah Prigi dan teman-temannya melakukan aksi penutupan pabrik, pembakaran, dan pelemparan fasilitas milik perusahaan.

SEKOLAH PENYELAMAT MATA AIR (Water Conservation School)

Setelah upaya tak kenal lelah selama 12 tahun dalam menyelematkan Kali Surabaya, Prigi terpilih sebagai penerima Goldman Environmental Prize 2011. Hadiah sejumlah 150.000 dolar Amerika Serikat pun sudah siap ia persembahkan untuk membangun sebuah sekolah pendidikan lingkungan, bagi masyarakat di negerinya.

“Dengan hadiah ini saya akan mendirikan Sekolah PENYELAMAT MATA AIR (Water Conservation School) di daerah Wonosalam. Sekolah ini nantinya akan mendidik orang untuk lebih mengenal hutan, air, dan interaksi antara manusia dan alam,” ungkap Prigi.

Menurutnya, selama ini kita merasa bahwa dengan uang kita bisa membeli air, makanan, dan segala kebutuhan kita, namun kita tidak pernah menyadari bahwa keberadaan sumber daya alam ini terbatas. Kini banyak mata air yang kering. Kita juga seringkali tidak tahu bagaimana kinerja terciptanya air sehingga seringkali kita boros air. Di sekolah ini Prigi ingin melahirkan orang-orang gila yang mau melakukan tindakan nyata menyelamatkan lingkungan, terutama kelestarian sungai.

Sekolah ini adalah sekolah global karena murid dan gurunya berasal dari berbagai belahan benua. Juni 2011 lalu mereka mendatangkan guru dari Universitas California at Berkeley yang akan membagi ilmunya tentang menjaga dan memonitor sungai kepada guru, pelajar, staf pemerintah, dan aktivis lingkungan di Jatim. Bahkan pada Januari 2012 nanti, bekerjasama dengan Universitas Ciputra, sekolah ini rencanaya akan diikuti oleh 20 orang mahasiswa dari Inggris, Belanda, dan Finlandia. Mereka ingin belajar tentang konservasi air di Wonosalam.

Prigi mengatakan, saat ini Indonesia kekurangan kader lingkungan yang mau melakukan kegiatan penyelamatan lingkungan. Karena itu, dengan sekolah ini diharapkan akan lahir generasi yang memiliki Nasionalis Global (Warga Global) yang meyakini bahwa setiap tindakan yang dilakukan memiliki dampak global pada bumi, memiliki prinsip seperti akan membagi biji dan pohon. Bergerak laten saat pertumbuhan biji, menancap kuat di dasar tanah, menjadi pioneer dan memberikan makanan bagi tumbuhnya pohon kesadaran lingkungan.

Prigi menegaskan dirinya akan tetap konsisten di jalur penyelamatan lingkungan ini.

“HASTA LA VICTORIA SIEMPRE. Saya tidak akan pernah berhenti berjuang sebelum meraih kemenangan,” katanya, mengutip Ernesto ‘Che’ Guevara, tokoh revolusi dari Kuba.

 
 

 

Warta Unair

Dies Natalis Unair Ke-60 Bagikan 6060 Bibit Tanaman Produktif Pecahkan Rekor Muri

Kampus C – WARTA UNAIR

Universitas Airlangga pada usianya yang ke-60 mendapatkan kado dari Museum Rekor Dunia Indone...

 
Read more

Agenda 01-11-2014